Mengusir Malas Ibadah

Perjalanan Panjang Menuju Islam, Seorang Muslim Amerika

Saudaraku Iman yang dimuliakan Allah swt.

Banyak dalil baik didalam Al Qur’an maupun As Sunnah yang memerintahkan kepada kaum muslimin untuk senantiasa beramal dan tidak berhenti darinya hingga bertemu dengan Allah swt. Amal sholeh baik yang terkait langsung dengan akherat seperti sholat, puasa, jihad maupun yang terkait dengan dunia seperti mencari nafkah, bergaul dengan masyarakat adalah bekal yang paling berharga untuk kebaikannya di dunia maupun akherat. Amal ini juga merupakan cerminan keimanan seseorang kepada Allah swt.

Diantara yang bisa menghambat bahkan tidak jarang menghentikan amal sholeh seseorang adalah rasa malas.

Malas adalah lemahnya kemauan, lebih mengutamakan istirahat daripada lelah dan tidak mengerjakan suatu amal sementara dia memiliki kesanggupan untuk melakukannya. Penyakit ini mudah sekali menghinggapi manusia karena memang tabiat manusia cenderung kepadanya kecuali mereka-mereka yang dirahmati Allah swt.

Untuk itu Rasulullah saw senantiasa berdoa : “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kerentaan. Aku berlindung kepada-mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (HR. Bukhori)

Ada beberapa sebab yang memunculkan sifat malas dalam diri seseorang :

1. Cenderung kepada tarikan syahwat yang sangat kuat.

Kecenderungan seseorang kepada hawa nafsu dan syahwatnya mengakibatkan lemahnya kemauan dalam diri untuk melakukan berbagai amal sholeh. Tidak jarang seseorang lebih mengutamakan sholat di rumah ketimbang berjalan ke masjid, lebih memilih berkumpul dengan istri adan anak-anaknya ketimbang keluar untuk berda’wah dan berjihad ataupun lebih mengutamakan istirahat daripada bekerja dan beraktivitas.

Kalau kemalasan ini hanya terjadi sesekali saja mungkin masih bisa diterima karena memang jiwa manusia memiliki keterbatasan untuk bisa terus menerus berada dalam kondisi puncak baik didalam aktivias akherat maupun dunia, sebagaimana hadits Rasulullah saw : “Sesungguhnya setiap amal memiliki semangat kemudian penurunan maka barangsiapa penurunannya mengajaknya kepada perbuatan bid’ah maka ia telah sesat namun barang siapa yang penurunannya mengajaknya kepda sunnah (ku) maka ia telah mendapat petunjuk.” (HR. Ahmad)

Yang menjadi musibah dalam diri seseorang adalah ketika kemalasan ini berlangsung secara kontinyu dan terus menerus baik secara sadar atau tidak.

2. Lalai

Firman Allah swt : “Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf : 205)

Jarangnya seseorang mengingat Allah swt disetiap waktu-waktunya menjadi sebab seseorang menjadi lalai. Lalai akan kewajibannya kepada Allah swt, Rasul dan Kitab-Nya, keluarga, masyarakat bahkan dirinya sendiri.

Kelalaian inilah yang menjadikan ia tidak antusias untuk memperbanyak amal dikarenakan tidak adanya dorongan kuat dalam dirinya.

3. Panjang angan-angan

Ada perbedaan antara harapan dan angan-angan. Harapan selalu dibarengi dengan usaha sedangkan angan-angan tidak pernah dibarengi oleh usaha. Ada yang mengatakan,”Siapa yang pendek angan-angannya maka terang hatinya, karena jika dia merasa sudah berada diambang kematiannya pasti ia akan bersemangat dalam ketaatan kepada Allah, tidak banyak keinginannya dan ridho dengan yang sedikit.”

Seseorang yang tenggelam dalam angan-angannya lupa bahwa segala sesuatu yang menimpa manusia adalah sesuai dengan taqdir dan ketetapan Allah swt. Diantara prinsip aqidah islam adalah usaha dan bertawakal kepada Allah swt bukan berpangku tangan, bermalas-malasan dan pasrah terhadap apapun yang akan terjadi pada dirinya.

Beberapa tips untuk mengusir rasa malas :

1. Memperbanyak dzikrullah.

Dzikrullah menjadikan hati seseorang merasa nyaman dan tentram dengan Allah swt. Inilah yang menjadi senjata ampuh untuk menghadapi berbagai tarikan hawa nafsu dan syahwat yang sering kali diprovokasi oleh setan dengan bisikan-bisikannya. Firman Allah swt : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ro’d : 28)

Kemalasan seseorang untuk beramal sholeh atau beribadah adalah buah dari bisikan-bisikan setan yang diikuti. Hal ini bisa terjadi pada saat ingin memulai suatu amal atau ketika amal itu sedang berlangsung.

Bisikan-bisikannya kepada seseorang disaat ingin memulai amal bisa dengan menghadirkan dalam dirinya hal-hal duniawi yang disukainya agar ia terpedaya dan tidak jadi menunaikan amal itu dan beralih kepada apa yang dibisikannya.

Kalaupun orang itu berhasil melalui ujian pertama itu dan tetap melakukan amal sholeh maka setan menggunakan jurus yang lain yaitu dengan membisik-bisikan dalam dirinya perasaan riya, ghurur, takabbur atau penyakit-penyakit hati lainnya.

2. Memilih lingkungan yang baik.

Tidak jarang seseorang yang pada awalnya malas menjadi bersemangat ketika menyaksikan orang-orang dikelilingnya begitu rajin. Sangat mungkin seorang anak yang tadinya malas membaca Al Qur’an kemudian menjadi bersemangat untuk membacanya setelah menyaksikan ayah atau kakaknya yang begitu rajin membacanya.

Tepatlah apa yang dikatakan Ibnu Kholdun bahwa manusia adalah anak lingkungannya, artinya orang-orang yang ada disekitarnyalah yang membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Untuk itu seorang mukmin haruslah memperhatikan lingkungannya, baik lingkungan rumah, kantor, bisnis bahkan lingkungan bermainnya.

Dia harus melakukan penseleksian terhadap orang-orang sekitarnya, siapa-siapa dari mereka yang akan menjadi kawan karibnya dan siapa-siapa yang akan menjadi kawan biasanya. Karena kawan karib biasanya bisa saling mewarnai berbeda halnya dengan kawan biasa. Sabda Rasulullah saw,”Seseorang itu tergantung dari (kualitas) agama kawan karibnya maka seseorang diantara kamu melihat siapa yang menjadi kawan karibnya.” (HR. Abu Daud)

3. Memperbanyak berdoa kepada Allah

Dalam hal ini Rasulullah saw mengajarkan kepada kita doanya,”Allahumma inni audzubika minal ajzi wal kasal wal jubni wal haromi wa audzubika min fitnatil mahya wal mamat wa audzubika min adzabil qobri, artinya; “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kerentaan. Aku berlindung kepada-mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubuق.” (HR. Bukhori)

Sesungguhnya hati manusia berada diantara jari jemari Allah swt, Dialah yang kuasa mengarahkannya sesuai dengan kehendak-Nya. Untuk itu agar hati ini terus diarahkan kepada kebaikan dan amal sholeh serta dihilangkan dari berbagai penyakit termasuk rasa malas maka mintalah kepada Allah melalui berdoa kepada-Nya, terutama doa diatas. Ucapkanlah doa itu di saat pagi hari tatkala ia hendak memulai aktivitasnya dan juga di saat petang hari tatkala ia mengakhiri aktivitasnya.

4. Menyadari kekeliruan dan mulailah melangkah.

Seseorang dikatakan baik ketika ia sudah menyadari kekeliruannya sebaliknya seseorang dikatakan buruk ketika ia sudah merasa bahwa dirinya baik. Kesadaran seseorang akan buruknya sifat malas adalah suatu modal berharga untuk ia bisa menjadi lebih bersemangat.

Tentunya kesadaran tersebut haruslah disupport dengan kemauan kuat untuk memperbaiki agar bisa berubah menjadi suatu amal.

Kesadaran akan kekeliruan adalah awal hidayah Allah swt kepadnya maka janganlah membuka kembali pintu-pintu setan untuk menguasainya dikarenakan kelengahan kita didalam menindaklanjutinya.

Untuk itu mulailah melangkah, seseorang bisa berjalan ribuan kilometer dikarenakan orang itu memulainya dengan satu langkah. Satu demi satu langkahnya diayunkan dengan keyakinan bahwa ia akan sampai pada titik akhir perjalanan yang diinginkannya.

Sesungguhnya perjalanan yang akan ditempuh masih sangat panjang untuk itu diperlukan kebersihan niat, kesabaran dan ketawakalan kepada Allah swt.

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Sumber : http://eramuslim.com/ustadz-menjawab/mengusir-malas.htm

PENJELASAN TENTANG BULAN DJULHIJJAH (AMAL SHOLEH 10 HARI PERTAMA DI BULAN DJULHIJJAH DAN PUASA TGL 9 DJULHIJJAH/PUASA ARAFAH)

Oleh: Ustadz Abdul Hasib Hasan

Dan ketahuilah bahwa Alloh bersama dengan orang-orang yang bertaqwa (yang Tho’at)”. Ungkapan “orang-orang yang bertaqwa” itu diungkapkan dengan isim fail bukan dengan fiil. Kalau fiil dia belum menunjukkan sifat yang permanen ketaqwaannya. Sedangkan dengan isim fail itu sudah pernanen, jadi ketaqwaannya itu sudah menjadi watak dan akhlaknya.

Alloh bersama orang yang seperti ini. Jadi ketaqwaan itu sudah melekat pada dirinya, kalau diungkapkan dengan fiil maka itu masih fluktuatif, taqwanya kadang-kadang taqwa kadang-kadang tidak. Ma’iyatulloh, kedekatan Alloh, pertolongan Alloh itu diberikan kepada orang yang ketaqwaannya itu sudah stabil terus menerus. Maka diungkapkannya dengan Muttaqin, isim fail. Ketahuilah bahwa Alloh bersama orang-orang yang bertaqwa dan ditekankan sekali peningkatan ketaqwaannya itu pada sepuluh hari yang pertama di bulan Dzulhijjah ini. Ayat ini berupa anjuran untuk melakukan ketaqwaan, ketaatan.

Walaupun pada ashurul hurum ini peningkatan ketaqwaan dan ketaatan ditekankan. Lebih ditekankan lagi pada “Al Ashrul Awwal Min Dzilhijjah ” (10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah). Ketika kita beramal sholeh pada hari-hari itu maka amal sholeh tersebut tidak bisa disamakan dengan amal sholeh apapun. Ada disebutkan dalam hadist yang sangat kuat ketika menafsirkan surat Al-Fajr. Pada 3 ayat pertama Alloh menyebutkan tentang sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Dalam hadist riwayat Imam Bukhori dalam kumpulan shohih Bukhori dikatakan “Tiada ada amal sholeh yang lebih dicintai oleh Alloh SWT daripada amal sholeh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ” . Sampai sahabat penasaran. Ada diantaranya yang bertanya , ” Tidak pula jihad fisabilillah”, maksudnya apakah jihad fisabilillah yang dilakukan di bulan lain tidak bisa menyamai amal sholeh yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.Kecuali orang yang keluar berjihad membawa hartanya yang banyak dengan jiwa raganya sendiri kemudian mati syahid tidak kembali. Ini baru bisa sama. Peluang 10 hari pertama ini sangat mahal.

Dalam hadist ini yang ditekankan adalah amal sholeh. Maksudnya adalah amal sholeh dalan bentuk apapun. Bahkan di surat Al-Fajr, Alloh SWT sampai bersumpah, ayat yang pertama , ” Demi waktu Fajr”, waktu shubuh sebagian ulama mengatakan wal fajr ini diantaranya fajr pada hari-hari yang sepuluh itu .”Dan malam-malamnya yang sepuluh”. “Dan yang genap dan juga yang witr”. Ada yang mengatakan bahwa semua yang genap itu (2,4,6,8,10) witrnya itu (1,3,5,7,9). Ada yang mengatakan bahwa Assyafa’ itu genap yang terakhir, karena waktu itu sangat ditekankan untuk menyembelih.

“Dan tidak ada perbuatan yang paling dicintati oleh alloh SWT pada tanggal 10 Dzulhijjah daripada menyembelih dan sesungguhnya pahalanya sudah sampai kepada Alloh sebelum tetesan-tetesan darahnya itu menyentuh tanah”.

Jadi begitu cepatnya sampainya, ketika kambing disembelih tetesan darahnya belum sampai ketanah nilai pahalanya sudah sampai sepenuhnya kepada Alloh SWT. Ini tanggal 10nya. Jadi sekali lagi tidak ada perbuatan yang paling baik daripada menyembelih kurban. Oleh karena itu ditekankannya pada tanggal 10, walaupun boleh juga hari-hari tasyrik sesudah itu. Ini genapnya
Sedangkan Witrnya secara khusus ada hadist Rosululloh yang mengatakan bahwa “Bahwa puasa ‘arofah (tanggal 9 Dzulhijjah) itu dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan menghapus dosa setahun sesudahnya ” Kalau dalam Fiqhus sunnah disebutkan bahwa sepuluh hari dimana amal sholeh itu ditekankan termasuk diantaranya puasa . Oleh karena itu sebagian berpuasanya dari tanggal 1 yang ditekankan sekali pada tanggal 9, tetapi kalu kita lihat hadist riwayat Bukhori tadi bahwa dari tanggal 1 sampai tanggal 10 itu diutamakan berbagai bentuk amal sholeh. Salah satunya diantaranya puasa . Tanggal sembilannya ditekankan puasa Arofah dan tanggal sepuluhnya ditekankan “udhhia” (Berkurban). Sampai dalam hadist dikatakan , “Barang siapa yang mempunyai keluasan rezeki tetapi dia tidak menyembelih maka jangan mendekati tempat Sholat kami”.

Kata rosululloh. Ini ancaman buat orang-orang yang punya, yang dalam surat Al-kautsar disebutkan bahwa itu merupakan perwujudan syukur nikmat. “Sesungguhnya kami telah memberikan nikmat yang begitu banyak kepada kamu dan sholatlah karena Alloh dan berqurbanlah”. Ini ketaqwaan yang dituntut oleh Alloh Swt. Kalau tadi pada Surat At-taubah ayat 36 dikatakan “Bahwa Alloh bersama dengan orang-orang bertaqwa”, diantaranya nanti Ma’iyatunnasr, Ma’iyatul Mahabbah, Ma’iyatul Ta’yid, kebersamaan Alloh disini kebersamaan dalam arti Alloh cinta kepadanya, kebersamaan dalam artian alloh memberikan dukungannya, kebersamaan dalam artian Alloh memberikan pertolongannya .

Ketahuilah bahwa pertolongan, cinta, dan bantuan Alloh diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa. Untuk meraih ketaqwaan itu ditekankan lagi bahwa amal sholeh itu pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah sampai dalam hadist dikatakan ” Tidak ada hari-hari dimana amal sholeh itu lebih dicintai ketimbang hari-hari yang kesepuluh itu”, jadi tidak ada amal-amal yang paling dicintai oleh Alloh daripada amal-amal sholeh yang dilakukan pada 10 hari pertama. Sahabat bertanya “tidak juga jihad fisabilillah yang dilakukan pada bulan-bulan yanglain.” Kata Rosululloh ” Tidak juga bisa disamakan sekalipun dengan Jihad fisabilillah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa raganya dan hartanya kemudian sedikitpun tidak ada yang kembali lagi, kalau masih ada yang kembali berarti belum sama , jadi kalau dia keluar kemudian tidak ada yang kembali, hanya kembali namanya saja alias sudah gugur, kalau masih ada yang kembali hartanya berarti belum sama, apalagi kembali orang dan hartanya sekalipun dia sudah jihad “.
Hendaknya peluang ini jangan sampai kita lewatkan. Marilah kita beramal sholeh dibulan-bulan yang dimuliakan Alloh baik beramal soleh dilingkungan keluarga kita sendiri. Bagaimana kita bisa beramal sholeh bersama-sama anak kita, bersama istri kita, bersama orang tua kita, bersama mertua kita, bersama saudara kita atau pun beramal sholeh dilingkungan kita. Sebab ketika kita beramal sholeh dengan keluarga dan lingkungan nilainya dua. Nilai amal sholeh itu sendiri dan juga nilai shilah nilai mempererat hubungan silaturrohim. Baik nanti amal sholehnya yang terkait dengan hablumminalloh (peningkatan ritual kita ) ataupun amal sholeh yang terkait dengan hablumminannas (peningkatan peran sosial kita ).Inilah Tiga hal yang Alloh SWT perintahkan terkait dengan ashurul hurum (Empat bulan yang dimuliaakn Alloh).